A Blog.com weblog
Dahulu manusia meyakini bahwa bumi ini datar, sampai pada masa Colombus berlayar mencari dunia baru atau saat Sir Isaac Newton menemukan (atau mengembangkan) teori gaya tarik bumi (gravitasi) kepercayaan bahwa bumi ini datar sudah tidak ada lagi (correct me if I’m wrong).
Terkait dengan gravitasi, benak saya berputar dengan liarnya dan mulai bertanya-tanya mengapa gravitasi itu diciptakan oleh yang maha pencipta. Apakah semata-mata untuk membuat manusia tetap dapat menapak di bumi ini, atau hanya untuk sekedar menahan bulan??, atau segala macam penjelasan-penjelasan ilmiah lainnya, yang kita pelajari di bangku sekolah dan kita saksikan penjelasan-penjelasannya di televisi atau buku-buku ilmiah lainnya.
Pernahkah kita berpikir bahwa gravitasi tidak semata-mata kaitannya dengan hal-hal ilmiah?……..
Pikiran liar saya sebagaimana dimaksud di atas, mempertanyakan sesuatu. Mungkinkah gravitasi diciptakan juga untuk menjaga manusia agar tetap rendah hati??.. agar kita tetap di bawah..agar manusia tetap Down To Earth?? Untuk mengingatkan kita bahwa “setinggi-tingginya” kita pasti kita akan jatuh, kembali ke bawah.
Konsep gravitasi yang demikian itu menjalin sebuah benang merah dengan kenyataan bahwa manusia diciptakan tidak memiliki sayap. Ya, manusia tidak bersayap, tidak diciptakan untuk terbang, dan “dilekatkan” dengan gravitasi, untuk menjaganya tetap Down To Earth.
Sang pencipta rupanya sudah mengetahui dan memang, on purpose melengkapi kita dengan kesombongan, namun demikian, Ia juga melengkapi kita dengan segala hal untuk mengingatkan kita agar menjauhi kesombongan, atau dengan kata lain, Ia menguji kita.
Selain dari kitab2 dan ajaran2 yang kita terima sejak lahir bahwa kita harus rendah hati and so on, sesungguhnya begitu banyak tanda-tanda kebesaran-Nya, seandainya kita lebih membuka mata kita., termasuk mata hati kita. Memaknai hal-hal kecil di sekitar kita, akan membantu kita semakin menyadari kekuasaanNya.
Dengan demikian, kesimpulan dari pikiran liar ini tentang adanya gravitasi ditambahkan dengan manusia diciptakan tak bersayap adalah bahwa kita memang dibekali kesombongan, namun sang pencipta juga melengkapi kita dengan berbagai hal untuk menjaga kerendahan hati kita, seandainya saja kita bisa memaknainya.
Demikian sekilas curhatan, lagi nunggu kerjaan gue direview sama Partners..hahahahahha cheerss!!!
Milanti Tawang Kirana
Do you know Doraemon series?? the keewwlll robotic cat from 22th century with a yojigen-pocket (kantong ajaib), sent back in time to help a lazy boy named Nobita? wkwk who don’t!! my generation must have memories with its characters… among others are Doraemon himself, Nobita, Shizuka the most beautiful girl in their world, Suneo the snob kid or takeshi a.k.a Giant the cruel bully boy..
Besides those main characters there are supporting characters such as Nobita’s teacher, Nobita’s parents or Doraemon’s little sister named Dorami the cute robotic cat..
People have their favorite of course, but mine is the one who ummm kind of unpopular character named Jaiko..
Jaiko is Giant’s dearest little sister who loves to make romantic stories (comics)..Giant always protected her and do anything to help her. This is funny because Giant can love his little sister that much hohoho..
She’s so sensitive, naive yet artsy.. I dont know why I like her..but in my memory she always be the real lady who taught us many things. Jaiko has a dream, to be a novelist or a romantic comic author. She keeps on dreaming and she’s pursuing her dream..
Her personality is so strong. She knows what she’s doing, and she knew she would become a “something”. Her character also tells me that you dont have to be bright and beautiful to livin your life.. she might not as gorgeous as other nice girls in their world but she got talent, even more powerful than just being a nice girl. I think nobody really like her, but I do like her!
It is always Jaiko hahaha…
She’s inspired me.
Warm regards,
Milanti Tawang Kirana
I have a unique and slightly freak friend named Adit.. he’s an ordinary calm n quiet man who fight for his dreams and make it all real.

We worked together as junior lawyer at a lawfirm in Jakarta several years ago, and that’s how we first met.
Working together everyday wasn’t bring any conversation or some chit-chat or any propinquity things between us, until there was a weird ‘event’ –> he added me as a friend in Friendster (so old) and when I saw his favorite movies on his profile, I ran to him and asked “Do you like Eternal Sunshine of The Spotless Mind..?” and he was like a frozen frog with no expression but a pause-look, then abruptly answered “yes..”. Ooo wooww.. that ‘weird event’ brought our first two-way talk called a conversation.
The movie things increased to books, musics and other normal things usually shared between friend.
1. Books
- I read Harry Potter and he reads a little.
- He likes Chicken with Plums and I love Persepolis (both r written by Marjan Satrapi)
- We went to a bookstore for some legal books, and ended up with the biography of John Lennon and Jimi Hendrix
- He introduced me to graphic novels of which now being one of my must-buy-stuff in bookstores.
2. Musics
- first time was-> I played Silverchair’s album Diorama while I was working, then he sang along.
- We like the Beatles.
- I like Jimi Hendrix, He likes Eric Clapton
- I like Led Zeppelin, He likes Black Sabbath
- We have many same bands in our itunes, that time were Interpol, Kula Shaker, Silverchair etc.
- I spent many nights at his place learn how to make his electric guitar sounds like rockstars guitars wkwkwk this was keewwll..
- with no TV, radio etc at his place (he was so poor), we just have some beers, silly talks and his electric guitar.. ouw and his old PC with thousand songs in it.
3. Photography
This is the latest interest I can share with him. He wants to be a pro photographer (and he’s going to), as u can see some of of my pictures are taken from a Diana camera he lent me. yeaa just for fun and hobby, but he’s doing it seriously with old cameras i.e old Nikkon SLR, Leica etc.
*NOW, THEREFORE I can say that he’s one of my best friends..
The weird part of him is his opinion about many things such as how sad songs bring happiness to him like Jeff Buckley songs or Joy Division. Related to our first conversation, he was once told me that what have made us being friends is my question about Eternal Sunshine of The Spotless Mind… he said ”…because she (me-red.) asked me about something important in my life..”. <– what a weird expression about a movie, yeah well I love that movie too.
He also has a weird idiom about my personality, said he “You’re weird but in a good Johnny Depp way..” waatt..??!!..but it’s kinda kewl I think. hehehe..
The most shocking part of his idiosyncrasy was he quit lawyering to focus in his band, that time he was one of the good lawyers at our firm.
His ‘most shocking’ decision is so great for an example to other young people, for them to be brave , fight for their dreams, make decision for their life, and living life on their own. This is our life.
Goodluck midget friend!!
\m/ Milanti Tawang Kirana
Iseng-iseng aja nih, sekedar menumpah-ruahkan pikiran ga jelas…
Tentang waktu..

Ummm.. gini, pernah dong denger teori Einstein bahwa Waktu = Ilusi? saya emang ga ngerti banget apalagi in detail yah.. tapi yang saya tangkap adalah: waktu bisa di “mainkan” jika kita punya tools yang tepat. contoh kasus sederhana seperti di bawah ini:
dari kota A ke kota B lama perjalanannya 11 jam (dengan menggunakan mobil), namun hanya perlu 1 jam jika menggunakan pesawat terbang. Nah lho…mungkin bisa lebih cepat lagi (bisa aja 1/4 menit), isu nya hanya ada tools yang tepat.
Itu sih yang saya tangkap, sempet juga mikir (dengan imajinasi seliar-liarnya), bahwa mungkin aja (kalo ada tools yang tepat) bisa jadi mundur waktunya. hehehe.
Okay lah (sebelum makin keblinger), saya pikir Einstein ada benarnya juga, waktu adalah ilusi. u guys may have different opinions.
regards,
Milanti Tawang Kirana
Saya percaya bahwa dunia ini hanya sementara. Saya yakin bahwa kehidupan abadi adalah di akhirat.
Saya percaya bahwa bumi ini berputar. Saya yakin bahwa matahari bersinar.
Saya percaya bahwa cobaan yang diberikan sesuai dengan kemampuan kita. Saya yakin bahwa ujian dan cobaan yang diberikanNya adalah untuk menaikkan derajat kita sebagai umatNya.
deuuhh leher ini serasa tertohok tombak, tombaknya pakuan, pakunya karatan..waspada stefanus :’(
(ceritera tentang kita dan PoV saya terhadap Rrrr you)
Prolog wannabe:
Dibesarkan dengan beragam stigma yang mengkotak-kotakan segalanya, membuat saya terindoktrinasi, bahwa: ‘selain dari kami itu=kurang baik=kurang bisa diterima=buruk’. Berbekal doktrin-doktrin tersebut, survivor didikan alam mulai mencari bentuk nya sendiri.
Batang Tubuh:
1. (ehemm..ehemm..) Suatu Subuh di suatu tahun pada sebuah hari dalam sebuah rumah :p , untuk pertama kalinya melihat H**dry. Pemuda rata-rata seperti yang biasa kita temui dalam pergaulan sehari-hari di tahun pertama kuliahnya. Tidak ada yang spesial kecuali sorot mata yang dalam. Hmmm menarik. Dalam kepala muncul semacam perkiraan “He’s gonna be big one day”-> Dia akan jadi ‘org besar’ suatu hari nanti. Namun demikian, menarik saja belum cukup memenuhi kebutuhan emosional,sehingga daya tariknya hilang begitu saja.
2. Perputaran bumi pada porosnya ternyata membantu apa yang terjadi selanjutnya dan sewajarnya manusia sebagai makhluk sosial->yeaapp kita berteman
Selama berteman, sekali lagi, dia adalah pemuda rata-rata-> ramah, friendly, baik etc. Akan tetapi beberapa peristiwa memberi kesan yang berbeda. Idealis dan Sensitif adalah yang paling nyata. Selebihnya, tiap orang akan punya PoV yang berbeda tentang dia. Bagi sebagaian orang dia begini, bagi sebagian org dia begitu, tergantung peristiwa apa yg anda alami bersama dia. Namun dalam pandangan saya, dia yg ‘begini dan begitu’ adalah kerjasama antara jasmani dan rohani yang membentuknya menjadi seorang pemimpin.
3. Pertemanan mulai mengambil jalan hidup seekor katak, Metamorfosis. Pertemanan kami beralih menjadi (sebagaimana Facebook menyebutnya ) ‘In a relationship’. Bagi saya, apa yang kita jalani dan lewati bukan suatu kisah picisan 2 anak kuliahan yg gila asmara and full of passion. Kita berangkat dari jalur aman yang berbeda background sampai melewati masa transisi yg berbeda pula background nya. tetapi spiritnya nya adalah sama, jalur aman dan masa transisi. Bukan sesuatu yang mudah melewati 2 fase bersama sebagai sebuah tim, dibutuhkan kerjasama yg keras dan kekuatan dari dalam hati, yg kita sebut ♥ (disadari atau tidak).
4. Lebih jauh dan lebih dalam, kualitas seorang H**dry semakin muncul ke permukaan. Dia memperkenalkan kepada saya, esensi dari berbagi dan menghargai diri sendiri. Perlahan tapi pasti, pola pikir untuk berbagi dan menghargai diri sendiri sudah mulai terbentuk dalam diri. Hal itu seperti sebuah konsep transfer of knowledge. Dia bisa men-deliver knowledge tsb kepada org lain, dengan lapang dada (disadari atau tidak) menuntun dan mengarahkan tanpa menggurui. The highlight is, he can makes me feel like a natural woman. Dibutuhkan jiwa seorang pemimpin untuk itu.
5. Idealisme membuatnya menjadi pemikir yg independen, seorang konseptor. Diikuti dengan analyctical skill yg kuat, dia benar-benar bisa menciptakan sesuatu. Oleh karena itu terkadang sulit berdebat dengannya tanpa harus menjadi si intimidating person. Since having a strong personality, bisa jadi perkiraan “He’s gonna be big one day” akan terealisasi. <- hope for the good one hon
6.Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, opini saya saat ini adalah kami berada dalam fase ke-3 dalam hidup kami->Masa membangun. Dia membangun sesuatu, begitu juga saya. Dimulai dari pembentukan fondasi and so on. Satu lagi siklus hidup si katak untuk dijalani bersama-sama sebagai tim. Kapal memiliki nahkoda, tim sepakbola memiliki kapten dan tim kami memiliki H**dry.
Epilog wannabe:
Lingkungan harus menyadari bahwa potensi tidak bisa mencuat begitu saja. Dengan arahan, tempaan, kesadaran dan kesempatan, bukan tidak mungkin untuk turning dust into a diamond. Selanjutnya, lingkungan juga harus menyadari, bahwa kasih mampu melampaui doktrin pengkotakan (apapun wujudnya) dengan perjuangan untuk mempertahankan, that what makes us human , yg dikirimkan kebumi untuk menjadi perwakilanNya.
“If u really want to make it with them,u’ll fight for it instead of just giving the physical of which for your own pleasure too, and leaving pain to the other just for your own safety. The fight that count”.
‘♥ Milanti Tawang Kirana
Quick post..untuk charge up spirit niy di hari yg agak dingin ini… hehehhe
1. (Satu)
Kita sudah dibekali segudang pemahaman akan apa yang baik dan buruk di dunia. Oleh karenanya kita punya pilihan-pilihan atas hidup kita. Kita ingin berubah menjadi lebih baik setiap harinya, hanya saja kita terlalu takut oleh sesuatu bernama “risiko”.
2. (Dua)
Kita adalah si pengemudi dalam perjalanan hidup kita, bukan si penumpang. Dengan demikian, tentukanlah jalan kita sendiri dan kebebasan kita sendiri. Orang lain hanya perlu bukti atas kemampuan kita menaklukan si risiko, kita semua pasti bisa asalkan kita sendiri ingin berubah untuk menjadi lebih baik.
3.(Tiga)
Karir, Agama, Kepercayaan, Tempat belanja favorit, Tokoh Idola, Kekasih dan sebagainya merupakan sesuatu yang bebas kita tentukan sendiri. Adalah kebebasan kita untuk menentukan.
4. (Empat)
Apakah “Kebebasan” bagi anda? Seperti apa “Kebebasan” untuk anda?
semoga “Kebebasan” anda adalah kebebasan yang bertanggung jawab.
5.(Lima)
“Emancipate yourself from mental slavery..none but ourselves can free our mind..” (Robert Nesta Marley-Humanist)
Salam,
Milanti Tawang Kirana
Siapa saja pasti pernah mengalami yang namanya jadi anak-anak… dimana kita pada saat itu menjadi manusia yang memiliki imajinasi tanpa batas.
Langkah terasa ringan, meski sehari-hari dipenuhi dengan cambukan akibat kerusakan di sana-sini. kerusakan yang tidak mungkin dibuat oleh anak-anak, tetapi cambukan pasti merusak anak2. sedih krn hal kecil, senang juga krn hal kecil, atau karena ukurannya memang masih kecil
.
Siapa anak-anak yang tidak pernah mengkhayalkan sesuatu?? siapa anak-anak yang tidak pernah bermimpi?.. sebagian besar ya. atau, jika ada yang tidak mungkin mereka hanya melupakannya atau faktor lainnya, dan bukan porsi saya untuk “do the math” tentang hal tersebut.
Jika sebagian kita kurang kerjaan dan punya banyak waktu luang utk melakukan sesuatu yg tidak penting (menurut org2 sukses atau pseudo success), maka cobalah hal berikut ini:
coba ingat-ingat, sewaktu kanak2 dulu kita sering berkhayal ttg apa sih? begitu sering dan kuatnya nya sampai kita merasa itu menjadi tujuan hidup. dengan kata lain, apa khayalan favorit kita sewaktu masih kanak2. apabila banyak, coba buat daftarnya. setelah mengingat dan membuat daftarnya, coba ingat bagaimanakah masa kanak2 kita. kondisi kita, keluarga, lingkungan dan semua yg berhubungan dgn kita.
setelah hal-hal tersebut dilakukan dan ada jawabannya, terakhir adalah hubungkan daftar khayalan dengan masa kanak2 kita. apakah ada suatu hubungan?
sebagai contoh, Fulan kecil selalu menghayalkan memiliki org tua baru, sanak saudara baru yang menyayangi sepenuh hati serta sebuah rumah baru. setiap hari seperti itu berulang-ulang sehingga akhirnya setelah dewasa ia menyadari bahwa idealisme sebuah keluarga itulah yang tidak ia dapatkan, yang sewajarnya dimiliki oleh org2 disekelilingnya.
contoh lain, Ahmad kecil selalu berkhayal tentang dirinya menjadi org lain bernama lain, menjadi superhero dan digemari semua org, begitu terus berulang-ulang hingga habis masa kanak2nya dan ia melupakan hal tersebut. belakangan disadarinya bahwa ia memang kurang diapresiasi atas segala hal oleh sekelilingnya.
Sebenarnya bahasan ini bisa menjadi luas sebagaimana format piramida dan menjadi serius dengan para ahli matematika yg “will do the math”. namun demikian mengingat bobot nya hanya untuk yang punya waktu luang dan hanya untuk menyegarkan kembali ingatan masa kanak2,maka sampai di sini saja pembahasannya, agar kita berpikir dan mungkin dapat membantu menjawab pertanyaan:
“apakah mungkin khayalan masa kanak2 kita bisa mencerminkan apa yang kurang dalam hidup kita sebagai anak2 saat itu?”
Warm regards,
Milanti Tawang Kirana
Semakin tua dunia, semakin banyak manusia, makin beragam idealisme yang diikuti dengan pilihan-pilihannya…tukang tato (tattoo artist) suatu profesi unik, di mana objek dari jasa yang ditawarkan masih menjadi kontroversi. Suara-suara sumbang yang mengaitkan ataupun membedakan objek tersebut dengan seni dan moralitas menjadikannya laris di pasaran. Terutama di tengah kalangan yang memiliki energi besar dan berjiwa pemberontak, sebagai wujud ekspresi jiwa yang represif pada awalnya.
Erv, seorang pemberani yang memilih profesi tersebut sebagai mata pencahariannya. Bukan tidak ada pilihan, tetapi memang itulah yang dipilihnya. Berani mempertaruhkan apa yang dimilikinya untuk pilihan tersebut. Memasukkan tinta ke dalam tubuh manusia dan menjadikannya sebuah gambar dengan nilai estetis tinggi, demikian juga nilai yang harus dibayarkan. Ia begitu yakin dengan jalannya, sampai terkadang orang memandangnya sebagai ‘terlalu jauh berpikir’. Ia bukannya terlalu jauh berpikir, ia hanya ‘menabung’ pikiran dan ide-ide. Disaat orang lain kehabisan ide, ia akan punya sisa ide-ide yang mungkin dapat dimanfaatkan, akibat ‘jauh’ nya pikiran yang ia buat dan kemukakan dari awal. Ia hidup dalam himpitan kepentingan manusia yang mencabik dan merusak orisinalitasnya sebagai anak yang lahir innocent. Harapannya begitu besar dan pandangannya terhadap hidup begitu positif. Ia mengenakan pakaian-pakaian berwarna-warni cerah dan membawa keceriaan. Menyematkan aksesori dadu dalam peralatan tato nya, dan didampingi seorang yang mencintainya dan juga hidupnya.
Seperti dadu, kita mendoakan angka-angka yang kita inginkan, mengocoknya dan melemparnya. Namun tidak selalu angka-angka tersebut kita dapatkan. Apakah kita berhenti? TIDAK. akan tiba giliran kita untuk kembali mengocok dan melempar dadu, kita pun akan terus menumpahkan dan mengharapkan angka-angka yang kita inginkan, begitu seterusnya sampai permainan selesai. Demikian juga hidup, kita berdoa, berharap agar semua sesuai dengan harapan-harapan kita tapi tidak selalu kita dapatkan setelah dadu kehidupan kita terlempar, namun kebanyakan kita berhenti sebelum permainan selesai, mengapa? bisa direnungkan masing-masing. Erv juga melakukan hal yang sama, ia mungkin tampak seperti bertaruh dalam hidupnya, tetapi tidak, ia hanya mencoba segala kemungkinan dan kesempatan, dan tidak menutup org lain untuk masuk bersamanya mengharapkan, mengocok dan melempar dadu hidupnya. Tidak berhenti dan mencoba terus karena gilirannya pasti selalu tiba, sampai selesainya permainan.
Mengapa kita tidak kita coba sesekali filosofi dadu ini dalam kehidupan kita?? Menaruh harapan terhadap segala sesuatu dan tidak pernah berhenti mencoba sampai habisnya usia kita. Tidak ada dosa karena berharap dan berdoa sesuatu yang positif terjadi dalam hidup kita. Satu contoh manusia unik telah mempraktikan filosofi dadu dalam hidupnya. Mari ikuti permainan dan melemparkan dadu-dadu hidup kita.
Warm regards,
Milanti Tawang Kirana
(post lg ah..krn yg pertama jauh di bwh…hehe)
Kebanyakan kita dilahirkan dengan mengikuti apa yang dipilih oleh org tua atau pengasuh kita.. suatu hari tibalah saatnya kita yang memilih untuk KITA.
Pencarian akan ’sesuatu’ dalam hidup dilakukan oleh hampir semua manusia. Setiap pihak beranggapan mereka adalah yang benar. Ada juga yang tidak mengklaim kebenaran mereka namun menilai SALAH pihak lainnya dgn kalimat “dari mana kalian tahu itu benar..”.
Pembahasan tentang kebenaran tidak akan ada habisnya, apabila pihak yg menilai SALAH tersebut diberi pertanyaan “darimana kalian tahu bahwa jln yg kalian ambil itu benar..” jawaban mereka akan sama dengan pihak manapun di dunia ini, dan pertanyaan yg dijawab dengan pernyataan akan menimbulkan pertanyaan baru dan terus begitu tidak ada habisnya. Perilaku demikian dapat mengurangi rasa rendah diri manusia, krn semakin jauh manusia menggali mereka akan menemukan bahwa semua kebenaran di dunia ini masih dipertanyakan, mereka akan mengeluarkan isi pikiran mereka dan mendeklarasikanya sebagai sebuah kebenaran.
Apabila kita mau meluangkan waktu berpikir sedikit, untuk apakah kita diciptakan di dunia?? apakah kita memang ‘diciptakan’?? oleh siapa? oleh apa? mengapa saya ada di sini?? jawaban dapat kita temui dalam kitab-kitab suci dengan penafsiran kita masing-masing. Apabila itu terlalu berat untuk dilakukan, maka coba renungkan sebentar..posisi kita saat ini. –>saya berada di sebuah ruangan dalam gedung yang beratap..di atas atap ada langit..di atas langit ada apa?? angkasa?? ruang?? atau apa?? di atasnya lagi ada apa?? apakah ad batasnya??..kalau ada sampai mana? apa sebutannya?
hal itu menandakan bahwa ada ’sesuatu’ yg lebih berkuasa dan tinggi dibanding kita dan lainnya, di atas sana atau di mana yang bersinergi dengan pertanyaan2 ttg kebenaran..dan semua pertanyaan2 yg menimbulkan pertanyaan baru itu hanya bisa dijawab dengan suatu keyakinan. kita tidak akan tersesat dengan pencarian akan kebenaran (yang memusingkan) bila hati kita tetap dan yakin..
Warm regards,
Milanti Tawang Kirana